setiap sore, ibuku pasti akan berkebun. memelihara tanaman2 yang telah kami tanam, baik melalui proses diskusi maupun pemaksaan. pemaksaan, soalnya biasanya ibuku nggak setuju dengan jenis pepohonan yang kurekomendasikan, termasuk memindah pot dan tanaman yang sudah beberapa tertanam di satu spot, grmmblll…[yang mana sampai saat ini aku nggak bisa ngerti, apa untungnya sih mindah2 tanaman kaya gitu?] memelihara tanaman di kebun rumah sangat bermanfaat jika anda juga memelihara kucing. they really love the garden! perhatikan, jika saat anda berkebun, pasti si kucing jadi lebih agresif dan pamer kebolehan ‘berburu’nya. ini bisa menjadi olah raga yang bagus untuk mereka.
memelihara kebun nggak seperti memelihara anak [mohon jangan mengkonotasikan kata pelihara dengan negatif di sini]. memelihara kebun, berarti kita bisa duduk sebentar untuk ngeluk boyok [jawa, meluruskan punggung/mengistirahatkan-terjemahan bebeas] kalo terasa pegal, nyruput teh, menerima telpon…atau ikut bergabung jika tiba2 Wawa Si Kucing Centil beraksi.
setiap sore, yang biasanya waktu berkebun itu, anak tetanggaku selalu menangis dengan suara yang luar biasa full bass and trebel, pakai dolby stereo kaya di bioskop21. bukan hanya bikin ortuku darah tinggi, bahkan Wawa aja langsung lompat ke genteng rumah tetangga…ngungsi cari ketenangan. dan sore ini, lagi-lagi dia menangis, makin lama makin luar biasa.
‘weny, kenapa adikmu?’
‘mau pup‘
waduh, kalo udah gini sih urusan emaknya!
‘dia tidak mau diam, tangan saya selalu dibuangnya’, kata weny yang kecil mungil sambil memperagakan.
‘mana ibumu?
‘lagi mandi’
“the mother- when the little one said want to pupi- said, ‘i’ll go take a bath first” samber ibuku sambil terus merapikan pasiflora-nya.
akhirnya, ibuku mulai nggak sabar; mulai memanggili si dolby stereo, ngajak ngomong…nggak mempan. tetangga lain keluar dan coba mendiamkannya. nggak mempan. tau-tau emaknya keluar dari kamar mandi dengan lenggang kangkung…”sini, sayang….”. Yeeeeeee!